9 min read

Di Balik MTA ONE & Brosur MTA: Tentang Niat, Salah Paham, dan Tetap Melangkah

Featured image for Di Balik MTA ONE & Brosur MTA: Tentang Niat, Salah Paham, dan Tetap Melangkah
Table of Contents

Ini bukan tulisan tentang aplikasi semata. Ini tentang niat, lelah, salah paham, dan alasan kenapa saya tetap memilih berjalan.


Pesan Pengembang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan, saya Cahyanudien Aziz.
Saya mengikuti kajian MTA di Cabang Sukodono 3, Sragen.

Melalui tulisan ini, saya ingin bercerita sedikit.
Bukan sekadar tentang aplikasi, tapi tentang niat awal, perjalanan panjang, beberapa kesalahpahaman yang terjadi, dan keputusan yang saya ambil hari ini.

Tulisan ini mungkin agak panjang.
Tapi kalau Anda pernah memakai aplikasi ini, menikmati fiturnya, atau sekadar bertanya-tanya kenapa aplikasi ini pernah berubah, maka inilah cerita yang selama ini tidak terlihat.


Awal mula semuanya

Sekitar 6–7 tahun yang lalu (sebelum 2020), saat saya masih merantau di Bekasi, saya cukup sering mengikuti kajian MTA melalui MTA TV dan Persada FM.

Mulai dari Fajar Hidayah, sampai Pengajian Ahad Pagi.

Waktu itu, saya tidak punya parabola.
Yang saya punya hanya handphone dan koneksi internet.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya biasa mendengarkan kajian.
Entah lewat YouTube, entah lewat radio online.

Dan jujur, itu bukan sekadar rutinitas.

Itu seperti jeda kecil untuk membereskan hati sebelum memulai hari.

Dari situ muncul satu pikiran sederhana:

“Kenapa ya belum ada aplikasi yang menggabungkan MTA TV dan radio dalam satu tempat?”

Karena kalau harus membuka YouTube terus, rasanya cukup boros kuota.
Kalau harus buka radio lewat browser, terasa kurang praktis.

Dan saya yakin, mungkin sebagian dari Anda yang membaca ini pernah merasakan hal yang sama.

Mungkin… itulah salah satu alasan kenapa akhirnya Anda mengunduh aplikasi ini.


Aplikasi ini lahir bukan karena saya hebat

Saat mulai membuat aplikasi ini, saya benar-benar tidak tahu apa-apa soal coding.

Saya belajar dari nol.
Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit.

Bukan karena ingin dikenal.
Bukan karena ingin terlihat bisa.
Bukan karena ingin mencari pemasukan.

Aplikasi ini lahir dari kebutuhan yang saya rasakan sendiri.

Saya butuh.
Lalu saya berpikir, mungkin orang lain juga butuh.

Sesederhana itu.

Karena itu, kalau hari ini aplikasi ini pernah terasa bermanfaat bagi sebagian orang, saya selalu merasa itu bukan karena saya hebat.

Bukan karena saya mampu. Tapi karena kita memang sama-sama membutuhkan.


Perjalanannya tumbuh bersama pengguna

Awalnya, aplikasi ini sangat sederhana.

  • MTA TV
  • Radio online

Hanya itu.

Tapi seiring waktu, karena masukan dari pengguna, karena kebutuhan yang terus terasa, aplikasi ini berkembang sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya pernah memiliki berbagai fitur seperti:

  • Brosur mingguan
  • Rekaman pengajian
  • Rekaman audio brosur
  • Al-Qur’an
  • Jadwal shalat
  • Kalender Islam
  • dan fitur-fitur lainnya

Kadang kalau saya lihat ke belakang, saya sendiri juga heran.

“Ternyata perjalanannya sudah sejauh ini.”

Dan lagi-lagi, saya tidak melihat ini sebagai pencapaian pribadi.

Saya justru melihatnya sebagai bukti bahwa:

kalau satu kebutuhan dirasakan dengan sungguh-sungguh, kadang Allah bukakan jalannya sedikit demi sedikit.


Tentang iklan dan tombol donasi

Saya tahu, ada satu bagian yang mungkin paling banyak menimbulkan pertanyaan:

“Kenapa aplikasi ini sempat ada iklan?”

Saya ingin menjawabnya dengan jujur.

Di awal, aplikasi ini memang hanya seperti proyek kecil.
Tapi lama-lama, tanggungannya menjadi nyata.

Ada biaya yang harus terus berjalan:

  • Sewa server tahunan
  • Sewa domain
  • Hosting
  • dan yang sering tidak terlihat: waktu, tenaga, dan ratusan jam belajar serta memperbaiki

Semua itu saya jalankan dengan biaya pribadi dan tenaga pribadi.

Sampai pada satu titik, saya bertanya pada diri sendiri:

“Apakah saya harus terus menanggung semuanya sendirian, bahkan sampai minus, hanya agar aplikasi ini tetap hidup?”

Dari situlah, beberapa waktu terakhir aplikasi ini sempat menampilkan:

  • Iklan
  • Tombol dukung / donasi

Tapi saya ingin menegaskan dengan jelas:

Itu bukan untuk meminta-minta.
Bukan untuk menjadikan agama sebagai sumber pemasukan.

Kalau boleh jujur, bahkan hasil dari iklan dan dukungan itu pun tidak sampai menutup setengah dari biaya tahunan yang saya tanggung sendiri.

Jadi kalau ada yang mengira saya “mencari untung” dari ini, saya hanya bisa tersenyum kecil.

Kalau tujuan saya uang, mungkin dari awal saya sudah menyerah.


Kenapa saya sempat ingin menghibahkan aplikasi ini ke MTA

Sampai akhirnya, pada suatu malam, saya berpikir:

“Kenapa saya harus membawanya sendirian, kalau ada pihak yang lebih besar, lebih tepat, dan lebih sesuai jalur untuk mengelolanya?”

Dari pemikiran itu, pada Januari 2026, saya membuat proposal resmi ke Sekretariat MTA Pusat.

Isi besarnya sederhana:

Saya ingin menghibahkan aplikasi ini kepada MTA.

Bukan menjual.
Bukan menawarkan kerja sama bisnis.
Bukan sedang negosiasi keuntungan.

Saya hanya berpikir:

  • kalau dikelola langsung oleh MTA, tentu akan lebih kuat
  • lebih terarah
  • lebih sesuai jalur
  • dan manfaatnya bisa jauh lebih besar

Karena sejak awal, saya memang tidak pernah ingin “memiliki” ini dengan cara yang egois.

Kalau memang ada rumah yang lebih layak untuk aplikasi ini, saya justru ingin mengantarkannya pulang.


Tentang ketidakjelasan yang menggantung

Namun sampai tulisan ini dibuat, dari Januari 2026 sampai sekarang, belum ada jawaban yang benar-benar jelas.

Saya sudah berusaha:

  • datang dan berbicara langsung ke sekretariat
  • menghubungi tim IT
  • berdiskusi lewat beberapa jalur yang saya bisa

Tapi sampai hari ini, semuanya masih terasa menggantung.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hal biasa.
Mungkin memang perlu waktu.

Dan saya pun berusaha memahami itu.

Tapi kalau saya boleh jujur…

yang paling berat bukan diterima atau ditolak.
Yang paling berat adalah dibiarkan tanpa kejelasan.

Kalau ditolak, saya bisa melangkah dengan jelas.
Kalau diterima, saya juga bisa menyerahkan dengan tenang.

Tapi kalau menggantung…

rasanya seperti sudah mengulurkan sesuatu dengan dua tangan, lalu dibiarkan tetap terulur tanpa kepastian.


Tentang salah paham yang pernah muncul

Di sisi lain, ada hal lain yang juga cukup berat.

Sebagian pengguna pernah mengatakan hal-hal seperti:

  • “Aplikasi ini bukan dari MTA.”
  • “Yang membuat bukan warga MTA.”
  • “Aplikasi ini ada iklan judi online.”
  • “MTA melarang warga memakai aplikasi ini.”

Kalau Anda membaca tulisan ini dari awal sampai sini, mungkin Anda bisa membayangkan rasanya.

Belajar dari nol.
Menanggung semuanya sendiri.
Menjaga agar tetap berjalan selama bertahun-tahun.
Lalu pada akhirnya, diberi label seperti itu.

Jujur, tentu ada rasa yang tidak enak.

Ada kecewa.
Ada lelah.
Ada pertanyaan dalam hati yang sempat sulit saya jawab sendiri.

“Kenapa bisa sampai seperti ini?”

Tapi setelah saya renungkan lagi, saya juga sadar:

yang belum paham cerita lengkapnya bukan berarti sedang berniat buruk.

Karena itu, saya tidak ingin membalas dengan kemarahan.

Saya memilih menjelaskan.
Hari ini. Lewat tulisan ini.


Saya sempat ingin menghapus semuanya

Ini bagian yang mungkin paling jujur dari semuanya.

Ada masa ketika saya sempat kecewa.
Dan dalam kecewa itu, saya sempat berpikir:

“Sudah, hapus saja semuanya.”

Semua aplikasi.
Semua fitur.
Semua yang sudah dibangun.

Karena jujur, saat hati lelah, pikiran seperti itu bisa muncul.

Tapi setelah saya telaah lagi, saya sadar satu hal yang sangat penting:

yang salah bukan para pengguna.

Banyak orang memakai aplikasi ini karena memang terbantu.
Banyak yang mungkin bahkan tidak tahu cerita di balik semua ini.
Mereka hanya ingin mendengarkan kajian, membaca brosur, atau mengakses hal-hal yang memudahkan ibadah dan belajar.

Dan saya merasa tidak adil kalau rasa kecewa saya kepada situasi tertentu justru berujung pada hilangnya manfaat untuk mereka.

Karena itu, saya tidak jadi menutup semuanya.

Saya hanya memilih menarik diri sedikit.
Bukan menghilang. Bukan memutus. Hanya menyesuaikan langkah.


Keputusan saya mulai hari ini

Dari semua pertimbangan itu, saya ingin mengembalikan aplikasi ini ke jati diri awalnya.

Saya memahami bahwa bagi sebagian pihak, keberadaan iklan dan tombol dukung dalam aplikasi seperti ini masih terasa tidak nyaman.

Karena itu, mulai sekarang:

  • Iklan dihapus
  • Tombol dukung / donasi dihapus

Dan agar jelas secara teknis:

Versi tanpa iklan dimulai dari v3.0.0
baik untuk aplikasi MTA ONE maupun Brosur MTA Lengkap.

Jadi, jika Anda masih melihat iklan atau tombol dukung, kemungkinan Anda masih menggunakan versi lama.
Silakan lakukan update ke versi 3.0.0 atau yang lebih baru.

Setelah update, insyaAllah Anda tidak akan lagi menemukan iklan maupun tombol donasi di kedua aplikasi tersebut.

Ini bukan karena saya marah.
Bukan juga karena saya menyerah.

Ini adalah cara saya merapikan niat, meringankan beban batin, dan menjaga agar langkah ini tetap bersih.


Apakah ini berarti saya akan berhenti?

Tidak.

Tapi saya juga ingin jujur.

Kalau ke depan aplikasi ini masih tetap harus saya kelola sendirian, maka kemungkinan besar pengembangannya akan saya sederhanakan.

Fokusnya akan lebih ke hal-hal inti yang benar-benar bisa saya jaga dengan kemampuan yang ada, seperti:

  • Update brosur mingguan
  • Audio brosur
  • dan beberapa kebutuhan utama lainnya

Jadi ini bukan perpisahan.

Ini hanya perubahan cara berjalan.

Dulu saya berlari.
Sekarang mungkin saya memilih berjalan lebih pelan.

Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena saya ingin tetap bertahan tanpa memaksakan diri.


Arah baru yang sedang saya rintis

Belakangan ini, perhatian saya semakin besar pada satu hal:

privasi dan Islam di tengah kemajuan digital

Dari kegelisahan itu, saya mulai merintis sebuah gagasan yang saya beri nama:

Sadaqah Code

Sebuah langkah kecil untuk memikirkan ulang bagaimana teknologi seharusnya dibangun.
Bukan hanya agar canggih, tapi juga agar:

  • lebih beradab
  • lebih menjaga privasi
  • lebih selaras dengan nilai Islam
  • dan benar-benar memberi manfaat

Kalau Anda ingin melihat arah yang sedang saya rintis, silakan kunjungi:

Mohon doanya.

Semoga langkah kecil ini tidak berhenti di satu aplikasi, tapi bisa tumbuh menjadi amal yang lebih luas.


Terima kasih

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih dengan tulus.

Untuk Anda yang sudah memakai aplikasi ini.
Untuk Anda yang pernah memberi masukan.
Untuk Anda yang pernah menunggu update.
Untuk Anda yang mungkin selama ini hanya melihat hasil akhirnya, dan hari ini bersedia membaca sisi yang selama ini diam.

Terima kasih sudah membersamai perjalanan ini.

Kalau ada manfaat yang pernah Anda rasakan dari aplikasi ini, saya bersyukur.
Kalau ada kekurangan, itu jelas dari saya.

Dan kalau hari ini Anda akhirnya tahu cerita di balik semuanya, maka setidaknya satu hal sudah tercapai:

Anda tidak lagi hanya melihat aplikasinya. Anda juga melihat niat dan perjuangannya.

Semoga Allah menerima setiap niat baik, memaafkan setiap kekurangan, dan menjaga langkah kecil kita agar tetap berada di jalan yang benar.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.