4 min read

Tiga Fase yang Semua Orang Lewati Tapi Jarang Diakui: Akar, Tumbuh, Langit

Featured image for Tiga Fase yang Semua Orang Lewati Tapi Jarang Diakui: Akar, Tumbuh, Langit
Table of Contents

Ada yang pernah merasa terjebak โ€” tapi tidak tahu terjebak di mana?

Bukan masalah kerjaan. Bukan masalah hubungan. Bukan satu hal yang bisa ditunjuk. Hanya sebuah perasaan berat yang duduk di dada, dan kamu tidak tahu sejak kapan ia di sana.

Aku pernah di situ. Dan ketika aku mulai menulis puisi, aku sadar โ€” ini bukan pengalaman yang unik. Ini fase. Dan hampir semua orang melewatinya.

Hanya saja tidak ada yang menyebutnya dengan nama.


Fase Pertama: Akar

Ini fase paling berat โ€” karena kamu belum tahu ini sebuah fase.

Rasanya seperti terbangun di dalam gua. Gelap. Sunyi. Kamu melangkah tapi beban di hati semakin berat, bukan berkurang. Kamu bertanya: di mana cahaya itu? Tapi bahkan pertanyaan itu terasa menguras tenaga.

Di sini banyak orang berhenti bergerak. Bukan karena menyerah โ€” tapi karena tidak tahu harus bergerak ke arah mana.

Yang sebenarnya terjadi: kamu sedang berakar. Akar tidak kelihatan dari luar. Akar tidak indah. Akar tumbuh ke bawah dulu, ke dalam kegelapan, sebelum pohon bisa berdiri.

Ini bukan kemunduran. Ini fondasi.


Fase Kedua: Tumbuh

Fase ini lebih membingungkan dari yang pertama โ€” karena terasa baik-baik saja di luar, tapi di dalam masih ada yang belum selesai.

Kamu mulai bergerak lagi. Ada momen riang, ada momen gemerlap. Orang-orang bilang kamu sudah baikan. Kamu sendiri hampir percaya.

Tapi waktu tidak berdiam diri. Ia terus berjalan, dan kamu sadar โ€” jiwa ini belum siap untuk terus berpura-pura nyaman. Ada pertumbuhan yang sedang terjadi, dan pertumbuhan itu tidak selalu mulus.

Kadang tumbuh artinya melepas. Kadang artinya berpisah dengan versi dirimu yang lama. Kadang artinya mengakui bahwa kamu butuh waktu lebih lama dari yang kamu kira.

Itu bukan kelemahan. Itu proses.


Fase Ketiga: Langit

Ini bukan fase di mana semuanya sempurna. Ini bukan happy ending.

Langit adalah fase di mana kamu bisa melihat lebih jauh โ€” bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kamu sudah cukup tinggi untuk melihat bahwa masalah itu bagian dari lanskap yang lebih besar.

Di sini kamu mulai bisa berterima kasih. Bukan terima kasih yang dipaksakan โ€” tapi yang tumbuh perlahan, seperti menyadari bahwa semua yang berat dulu, membentukmu sekarang.

Dan di sini kamu sadar: perjalanan ini tidak pernah benar-benar selesai. Kamu hanya terus berjalan, dengan beban yang berbeda, dengan cara yang sedikit lebih bijak.


Kenapa penting memberi nama pada fase ini?

Karena ketika kamu tahu kamu sedang di fase Akar โ€” kamu tidak akan mengira dirimu rusak.

Ketika kamu tahu kamu sedang di fase Tumbuh โ€” kamu tidak akan terburu-buru untuk sampai.

Dan ketika kamu akhirnya di fase Langit โ€” kamu akan menoleh ke belakang dan mengerti kenapa semua itu perlu terjadi.


Tiga fase ini yang menjadi tulang punggung buku puisi pertamaku, Hening yang Berjalan. Dua puluh empat puisi, tiga bagian, satu perjalanan yang tidak menawarkan jawaban โ€” hanya menemani.

Kalau kamu sedang di salah satu fase itu sekarang, mungkin ada baris di sana yang terasa seperti milikmu.

cahyanudien.site/hening-yang-berjalan


Cahyanudien Aziz Saputra adalah pendiri FlagoDNA, pengembang aplikasi yang belajar mandiri. Banyak orang memakai apa yang ia buat. Tidak ada yang tahu berapa malam ia habiskan dalam sunyi. Buku ini adalah salah satu caranya berbicara.