Mengapa Saya Membangun Quran Today
Banyak aplikasi dimulai dari pertanyaan, “Fitur apa yang harus ditambahkan?”
Saya memulai Quran Today dari pertanyaan yang berbeda.
“Apa saja yang sebenarnya tidak diperlukan?”
Selama bertahun-tahun saya mencoba berbagai aplikasi Al-Qur’an. Hampir semuanya memiliki tujuan yang baik. Namun semakin lama saya merasa satu hal mulai hilang: kesederhanaan.
Ketika saya membuka aplikasi Al-Qur’an, saya sebenarnya hanya ingin membaca Al-Qur’an.
Bukan membuka dashboard.
Bukan melihat statistik.
Bukan mencari menu yang rumit.
Bukan terdistraksi oleh iklan atau notifikasi.
Saya hanya ingin melanjutkan bacaan.
Dari pemikiran itulah Quran Today lahir.
Membuka aplikasi seharusnya tidak menjadi pekerjaan
Saya percaya pengalaman terbaik adalah pengalaman yang hampir tidak terasa.
Ketika aplikasi dibuka, pengguna tidak perlu berpikir harus menekan tombol apa.
Mereka cukup kembali ke ayat terakhir dan melanjutkan membaca.
Karena itulah Quran Today tidak memiliki halaman beranda yang penuh informasi.
Aplikasi langsung mengembalikan pengguna ke posisi terakhir mereka membaca Al-Qur’an.
Sesederhana itu.
Mengurangi, bukan menambah
Sebagian besar proses pengembangan bukan tentang menambahkan fitur.
Justru sebaliknya.
Saya lebih sering menghapus sesuatu yang menurut saya tidak benar-benar membantu proses membaca.
Setiap fitur harus menjawab satu pertanyaan sederhana.
Apakah ini membantu seseorang membaca Al-Qur’an dengan lebih nyaman?
Jika jawabannya tidak jelas, kemungkinan besar fitur tersebut tidak perlu ada.
Privasi bukan fitur tambahan
Saya tidak ingin aktivitas membaca Al-Qur’an dikirim ke server.
Saya tidak ingin mengetahui ayat apa yang dibaca pengguna.
Saya tidak ingin mengetahui jam berapa mereka membuka aplikasi.
Saya juga tidak ingin membuat pengguna harus memiliki akun hanya untuk membaca kitab suci.
Karena itu Quran Today dibuat tanpa akun, tanpa pelacakan, tanpa analitik perilaku pengguna, dan tanpa iklan.
Semua data pribadi tetap berada di perangkat pengguna.
Teknologi hanyalah alat
Saya cukup lama mengembangkan aplikasi ini menggunakan Flutter.
Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk memigrasikannya ke Android Native menggunakan Kotlin dan Jetpack Compose.
Keputusan ini bukan karena Flutter buruk.
Sebaliknya, Flutter adalah framework yang sangat baik.
Namun untuk kebutuhan Quran Today, terutama dalam menampilkan mushaf, teks Arab, tajwid, dan pengalaman membaca yang sangat halus, saya merasa Android Native memberikan kontrol yang lebih besar.
Teknologi bukan tujuan.
Teknologi hanyalah alat untuk menghadirkan pengalaman membaca yang lebih baik.
Tidak mengejar waktu penggunaan
Banyak aplikasi modern dirancang agar pengguna menghabiskan waktu selama mungkin.
Saya justru berharap kebalikannya.
Jika seseorang membuka Quran Today selama sepuluh menit, membaca beberapa halaman Al-Qur’an, lalu menutup aplikasi, maka aplikasi telah menjalankan tugasnya.
Ia tidak perlu membuat pengguna terus berada di dalam aplikasi.
Ia hanya perlu membantu mereka membaca.
Perangkat lunak yang tenang
Saya menyukai istilah calm software.
Perangkat lunak yang tidak meminta perhatian terus-menerus.
Tidak berisik.
Tidak memaksa.
Tidak mengganggu.
Quran Today berusaha menjadi seperti itu.
Ia hadir ketika dibutuhkan, lalu menghilang ketika selesai digunakan.
Penutup
Saya tidak berharap Quran Today menjadi aplikasi Al-Qur’an dengan fitur paling banyak.
Saya juga tidak berharap menjadi aplikasi yang paling populer.
Saya hanya ingin membangun sebuah aplikasi yang nyaman digunakan setiap hari.
Sebuah aplikasi yang menghormati waktu, fokus, dan privasi penggunanya.
Jika pada akhirnya seseorang dapat lebih mudah menjaga kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari karena aplikasi ini, maka tujuan saya sudah tercapai.