5 min read

Kenapa Aku Menulis Hening yang Berjalan

Featured image for Kenapa Aku Menulis Hening yang Berjalan
Table of Contents

Ada gambaran yang sering dilekatkan pada developer.

Sendiri.
Headphone terpasang.
Layar menyala jam 2 pagi.
Kopi sudah dingin.
Logika di mana-mana, perasaan entah ke mana.

Aku hidup di dalam gambaran itu bertahun-tahun.

Dan aku cukup baik dalam hal itu.
Aku masih baik dalam hal itu.

Tapi di suatu titik โ€” aku tidak bisa bilang kapan tepatnya โ€” aku menyadari ada sesuatu yang diam di dalam diriku yang dulu pernah bersuara.

Bukan burnout.

Sesuatu yang lebih lambat dari itu.

Semacam kemandegan hati.


Dingin yang Menumpuk Perlahan ๐ŸงŠ

Tidak banyak orang membicarakan ini di lingkungan teknologi.

Kita bicara soal shipping.
Soal scale.
Soal clean architecture, performa, dan user retention.

Kita bicara tentang hampir segalanya, kecuali kenyataan bahwa bertahun-tahun hidup di dalam kepala sendiri โ€” di dalam sistem, logika, dan abstraksi โ€” bisa membuat seseorang merasa seperti perlahan mengering.

Aku rasa aku tidak sendirian dalam hal ini.

Aku yakin banyak developer merasakannya, tetapi tidak punya bahasa untuk mengungkapkannya.

Karena kita memang tidak pernah dilatih untuk punya bahasa itu.

Kita dilatih untuk memecahkan masalah.

Dan ini bukan masalah yang bisa dipecahkan dengan kode.

Hati tidak butuh solusi.

Hati butuh didengar.


Maka Aku Mulai Menulis โœ๏ธ

Bukan blog post.
Bukan dokumentasi.
Bukan README.

Puisi.

Awalnya terasa aneh โ€” hampir memalukan.

Aku membangun aplikasi.
Aku menulis kode.
Apa yang sebenarnya sedang kulakukan dengan memecah kalimat menjadi jeda-jeda, lalu menyebutnya seni?

Tapi aku terus melanjutkan.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada sesuatu di dalam diriku yang mulai mencair.

Kata-kata datang dari tempat yang tidak kusadari selama ini kubawa:

  • kehilangan
  • identitas
  • perasaan berjalan di jalan yang tak sepenuhnya bisa dilihat
  • keberanian aneh yang dibutuhkan untuk terus melangkah

Hal-hal yang belum pernah kuucapkan dengan keras โ€” kepada siapa pun, termasuk diriku sendiri.

Begitulah Hening yang Berjalan bermula.


Apa Sebenarnya Buku Ini ๐Ÿ“–

Hening yang Berjalan karya Cahyanudien Aziz Saputra adalah kumpulan puisi kontemplatif yang lahir dari keheningan โ€” tentang perjalanan jiwa yang tidak pernah benar-benar selesai.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian:

  • Akar โ€” dari mana kita berasal. Tanah di bawah kaki kita. Kehilangan, asal-usul, dan hal-hal yang membentuk kita sebelum kita punya kata untuk menamainya.
  • Tumbuh โ€” ruang di tengah. Identitas yang bergerak. Proses menjadi diri sendiri yang sering tidak nyaman, tetapi perlu.
  • Langit โ€” kedatangan, atau sesuatu yang menyerupainya. Keberanian untuk melanjutkan. Ketenangan yang bukan lahir dari diam, melainkan dari akhirnya bergerak bersama dirimu sendiri, bukan melawannya.

Ini bukan buku yang dimaksudkan untuk dibaca terburu-buru.

Ini adalah buku yang sebaiknya ditemui dalam momen-momen sunyi โ€” ketika kata-kata bisa terasa personal, seolah ditulis untuk satu pembaca saja.

Dan dalam arti tertentu, memang begitu.

Aku menulisnya untuk diriku sendiri.

Dan justru karena itu, mungkin ia bisa menyentuh orang lain juga.


Yang Aku Pelajari Saat Menyeberangi Jembatan Itu ๐Ÿ’ก

Menjadi developer mengajariku presisi.

Setiap kata dalam kode berarti sesuatu yang tepat.
Hampir tidak ada ruang untuk ambiguitas.

Puisi mengajariku hal yang sebaliknya:

bahwa ambiguitas sering kali justru tempat makna bersemayam.

Satu baris bisa berarti tiga hal sekaligus โ€” dan justru menjadi lebih benar karenanya.

Dua cara berpikir ini tidak saling bertentangan.

Mereka saling menyeimbangkan.

Dan aku percaya developer, mungkin lebih dari banyak orang, sering kali punya sesuatu yang layak untuk dikatakan โ€” karena kita menghabiskan begitu banyak waktu di dalam pikiran kita sendiri.

Kita hanya butuh izin untuk mengatakannya dengan cara yang berbeda.

Kalau kamu seorang developer yang membaca ini dan merasakan kedinginan sunyi yang sedang kugambarkan, aku tidak menyuruhmu menulis puisi.

Aku hanya menyuruhmu menemukan apa pun yang bisa mencairkan sesuatu yang telah membeku.

Buat sesuatu yang tidak berjalan di atas logika.
Buat sesuatu yang tidak perlu di-ship.
Buat sesuatu hanya untukmu.

Hati bukan sebuah bug.

Ia tidak perlu diperbaiki.

Ia perlu didengar.


Kenapa Aku Menerbitkannya ๐Ÿคฒ

Karena ada hal-hal yang layak dihadirkan ke dunia meski dunia tidak pernah memintanya.

Hening yang Berjalan adalah untuk siapa pun yang sedang mencari, sedang menyembuhkan diri, atau sekadar berdiri diam di tengah kebisingan hidup.

Mungkin itu banyak dari kita.

Itu pasti aku.


Temukan Bukunya ๐Ÿ”—


Untuk siapa pun yang sedang berjalan perlahan melewati sesuatu yang berat โ€”

buku ini untukmu. ๐ŸŒฟ